Ads 468x60px

.

Friday, November 18, 2011

Empat Pilar Hidup

           Hemat pangkal kaya, itulah kata pepatah. Hemat disini kalau aku mungkin lebih mengarah ke pengertian sederhana atau bisa dikatakan tengah-tengah (moderat), itulah pesan tulisan ini. Dengan hidup moderat kita akan lebih supel dalam berbagai hal, kita tidak akan bersikap ekstrim, keras, kaku bila menerapkan hidup moderat, untuk menuju kemoderatan mari hidupkan empat pilar hidup  hemat.

Hemat Waktu
Dalam hidup yang serba krisis saperti sekarang ini, sudah seyogyanya kita menerapkan hidu hemat. Hemat dari apa? Hemat dalam menggunakan waktu. Waktu sangatlah berharga, ia seperti pedang, kata nabi Muhammad. Kalau kita tidak bisa “meneklukan” waktu, ia akan segera menakuklan kita. Bahkan ia bisa membunuh kita.sungguh suatu yang sangat disesalkan jika itu terjadi pada kita. Oleh karena itu, tak ada pilihan bagi kita selain menghemat waktu sejak sekarang, yakni dengan megguakan waktu sebaik-baiknya.
            Pepatah kuno mengatakan, “waktu adalah uang!” pepatah lain mengatakan, “waktu adalah peluang dan kesempatan!” semua pepatah itu benar adanya. Di sini, yang paling penting bagi kita adalah menyadari pentingnya waktu. Ia datang menyapa kita, lalu berlalu dan tak pernah lagi kembali. Setiap waktu yang berlalu boleh jadi menjadi bagian yang kita sesalai kelak. Maka, pilihan terbaik adalah memanfaatkanya dengan optimal.
            Di dalam al-Qr’qan, sering kali Allah bersumpah menggunakan waktu. Diantaranya: wa alfajri (demi waktu fajar), wa ash-shubhi (demi waktu subuh), dan lainya. Semua itu menunjukan dan sekaligus menyadarkan kepeda kita betapa pentingnya waktu. Amat rugilah kita yang menyia-nyiakan waktu selama hidup. Oleh karena itu, mari kita gunakan waktu sebaik-baiknya.


Hemat Berpikir
Disamping hemat waktu, kita juga sebaiknya hemat dalam berpikir. Hemat berpikir maksudnya menggunakan pikiran dengan sebaik-baiknya, tidak memikirkan hal-hal yang tiada guna, apalagi berpikir sesuatu bisa merugikan orang banyak.
Hemat berpikir tidaklah sama dengan malas berpikir. Hemat berpikir lebih pada upaya bagaimana kita senantiasa focus dalam berpikir, tepat sasaran, dan memeliki makna, serta bermanfaat bagi kita dan orang lain.

Hemat Berbicara
Disamping hemat waktu dan berpikir, kita seyogyanya hemat bicara, dan budaya bicara (asal ngomong tanpa ada bukti) sudah waktu dikurangi. Bukan berarti ngomong dilarang, tetapi sudah seyogyanya setiap omongan itu diteruskan dengan tindakan yang nyata.
Disamping itu, seringkali perkataan-perkataan menjurus kepada fitnah. Dan kita harus ingat, bahwa kata-kata itu lebih tajam dari tajamnya pisau dan korbanya pun bisa lebih parah. Oleh sebab itu, sejak sekarang kita harus hemat berbicara atau berkata. Satu patah kata yang keluar dari mulut kita, bagaikan peluru yang melasat dan didak dapat di tangkap lagi, ya kalau tepat sasaran, kalau tidak bisa gawat kan?.
Semakin kita bayak bicara semakin banyak kemungkinan lidah kita terpeleset. Masih ingatkah kita pesan nabi Muhammad: “Berkatalah yang benar atau lebih baik diam” jangan banyak bicara, kecuali pembicaraan yang dapat membawa manfaat dandapat menyelesaikan masalah. Dan yang lebih penting lagi mencoba meminimalkan berkata sia-sia bahkan berhenti.

Hemat Berkeinginan
Nabi Muhammad pernah bersabda: “ Setiap orang adalah budak bagi keinginanya”, setiap keinginan (apa pun jenisnya)  akan menuntun langkah seseorang kemana ia mau. Kalau keinginan itu berkaitan dengan pemenuhan kenikmatan duniawi seperti harta, gelar, jabatan, pujian, sudah tentu seseorang akan melayani keinginan itu dengan sekuat tenaga. Pada saat seseorang berjuang keras mewujudkan keinginanya, saat itu juga ia menjadi budaknya.
Meskipun demikian, bukan berarti mencapai sebuah keinginan itu di larang. Allah hany melarang keinginan yang berlebih-lebihan. Seseorang yang tak pernah puas dengan capaian yang telah diperolehnya dan terus mengejar keinginanya panpa pernah mensyukuri segala yang didapat, maka oleh Allah dianngap hina. Yakinlah, hanya Allah juga yang mengangkat derajat seseorang dan Dia pula yang menghinakanya. Setinggi apapun pangkat seseorang, kalau Allah ingin mencabutnya, pasti akan hilang juga. Lihatlah, betapa banyak orang yang hidup dengan capaian jabatan yang tinggi, namun mereka tidak pernah merasa bahagia.
Orang jawa bilang:
“Obahing awak kudu nyambut gawe
Nyambut gawe kuwi golek bandha
Bandha iku sarana kanggo ngibadah dating Allah
Tanpa bandha leh ngibadah ora sampurna
Nek golek bandha sing waspada lan wicaksana
Ojo muka lan nista
Nanging golek bandha
Kudu sing kebak rahmating Gusti kang Maha Kuasa”.   

0 comments:

Post a Comment