Keutamaan adalah masalah pengetahuan, dan bila seorang diberi pengajaran tentang apa yang sebenarnya baik baginya, maka ia akan bertindak sesuai dengan keutamaan itu. Kita sebagai keturunan orang Jawa sudah seharusnya mengetahui warisan-warisan para leluhur. Para leluher sudah memberikan kita semua sebuah tirkah (warisan) berupa tuntunan norma dalam semua bidang, salah satunya ilmu pengetahuan yang bersifat objektif (kwaruh). Kwaruh ini sangat esensial bagi generasi penerus untuk mencapai keberhasilan dalam mencari ilmu. Untuk mendapatkan ilmu seseorang harus memenuhi syarat-syaratnya, syarat-syarat tersebebut terjamakan dalam dalam sepuluh strategi T, yakni: tekat (niat), teguh (gigih), taat (disiplin), tabah (berani dan sabar), taberi (rajin), telaten (tekun), tliti (teliti), tanggen (tahan, tidak mudah goyah), takonan (berani berbicara atau banyak membaca karya orang lain).Namun, sepuluh T pun belum di anggap cukup, karena untuk mencapai tataran (jenjang) untuk menguasai ilmu pengetahuan subjektif (ngelmu) maka harus ditambah satu T, yakni tirakat, laku prihatin.
Dikatakan " ngelmu iku, kelakone kanti laku" maksudnya ilmu itu agar bisa merasuk kejiwa harus dilakukan.
Berkaitan denggan satu T, tirakat bisa dilakukan oleh seseorang dengan cara:
- Mesubudi, maksudnya membersihkan pekerti, kelakuan atau tingkah laku dengan mengekang hawa nafsu dari semua sifat-sifat yang kurang baik.
- Mesuraga, maksudnya membersihkan badan dari kotoran segala unsur negatif.
Melakukan keduanya bisa dengan cara mengurangi makan, minum, tidur, mengendalikan segala nafsu lahir maupun batin, serta meningkatkan kualitas Iman dan Takwa kepada Allah SWT. Itu semua di tempuh untuk: HAMEMASAH, HAMEMASUH TAJEMEMG QOLBU (mengasuh, mensucikan ketajaman hati), agar dapat mencapai KAWASKITANING CIPTA (intelegensi hati, batin dan ruh).




